
“Jangan lupa tali rafia juga di bawa….buat apa? Ntar kita buat jadi penghubung dalam permainan jaring-jaring kehidupan. O…kirain buat apa. Yah…kan gak apa juga dibawa. Pasti ada aja perlunya. Ok sip…dah didalam mobil semua. Coba check list ulang. Genset, multimedia proyektor, layar kain, wireless microphone, minyak bensin buat genset, kabel-kabel. Apalagi yah kira-kira….
Ini sebagian percakapan menjelang keberangkatan kita ke lokasi target sasaran Awareness program. Program ini merupakan salah satu program yang sedang di jalankan kawan-kawan dari Wildlife Conservation Society – Sulawesi Program (WCS). Dan program ini bekerjasama dengan CTRC (Conservation Training & Resource Centre) bogor serta Yayasan Rimbawan (LSM lokal Kotamobagu).
Hari Kamis tanggal 19 Maret 2009 yang lalu, kita berangkat menuju Desa Pindol Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mangondow (Bolmong) Sulawesi Utara. Desa ini berbatasan dengan Taman Nasional Bogani Nani Watabone, Salah satu Taman Nasional yang terdapat di Sulawesi Utara. Terdapat dua Taman Nasional di Sulawesi Utara. Yaitu Taman Nasional Bogani Nani Watabone dan Taman Nasional Bunaken.
Secara geografis, desa Pindol terletak tepat berbatasan dengan Taman Nasional Bogani Nani Watabone. Dengan jumlah penduduk 700 KK menjadikan desa ini terbagi atas dua dusun. Sektor pertanian menjadi pendapatan utama dari masyarakat desa yang berada pada ketinggian 70-80 mdpl ini. Mayoritas penduduk beragama Islam dan terdapat satu buah SD negeri dan satu buah SMP Negeri. Yang sangat memprihatinkan adalah keterbatasan guru di desa Pindol tersebut. Jumlah siswa SD negeri Pindol sekitar 200 anak dan hanya memiliki 2 orang guru, dimana salah seorang gurunya juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SD. Sementara jumlah siswa SMP negeri Pindol sekitar 60 orang anak dan hanya memiliki 2 orang guru, dimana salah satu gurunya juga menjabat sebagai kepala sekolah SMP negeri. Tragis memang kehidupan sekolah didesa Pindol ini, dimana jaman yang sedang pesta korupsi dan biaya pendidikan yang sangat mahal. Apakah sedemikian tragisnya siswa-siswa sekolah di desa pindol ini? Sampai-sampai tidak ada guru yang tertarik untuk mengabdikan dirinya pada desa pedalaman? Apakah Omar bakri hanya cerita dalam narasi lagu seorang “Iwan Fals”…tragis…sunguh tragis….
Belum hilang kesedihanku melihat nasib yang dilanda sekolah di desa Pindol tersebut, ternyata masyarakat juga sangat tidak jauh berbeda nasibnya dengan para siswa yang tidak mempunyai guru. Kehidupan masyarakat mayoritas adalah petani sawah dan kebun. Banyak persoalan yang dihadapi mereka, tapi apa daya…karena keterbatasan yang mereka miliki menjadikan mereka pasrah akan keadaan yang dialami pada saat pertanian dan perkebunan mereka di serang hama. Sementara penyuluh pertanian yang diharapkan hanya datang 3 kali dalam setahun. Itupun hanya sekedar melihat situasi sambil membuat laporan singkat, seakan-akan penyuluh tersebut rutin datang memberikan penyuluhan di desa tersebut. Sebegitu parahkah pemerintahan kita sekarang ini, sampai mengabaikan tugas utama mereka yang seharusnya melayani masyarakat? Apakah ini memang fenomena di tanah air tercinta ini? Aku tidak mampu berbuat banyak. Hanya bermodalkan ilmu yang kumiliki, sedikit menghibur masyarakat dan siswa sekolah di desa ini. Seandainya aku masih diberi kesempatan, aku akan membagi kebahagianku dengan mereka. Harapanku semoga aku bisa menghibur mereka.
Selasa, 24 Maret 2009
Pelajaran Berharga dari Desa Pindol, Kec. Lolak Kab. Bolaang Mongondow (Bolmong) Sulawesi Utara
Selasa, 01 Juli 2008
Rabu, 21 Mei 2008
Dilematis antara Idealis, kebutuhan dan keinginan
Kata-kata ini selalu terngiang terus di telinga. Siapapun manusianya selalu mendapat persoalan seperti ini. Sangat sulit bagi manusia
untuk memisahkan satu dari yang lain. Kata-kata ini akan terus mengikuti, kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada…..menggangu….? Sangat!
Apakah kita bisa keluar dari persoalan ini? Aku yakin masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dan biasanya orang-orang memakai yang namanya strategi. Yah…Strategi. Bisakah akhirnya kita keluar dari keterjebakan kata-kata idealis, atau besarnya kebutuhan yang harus kita cari dan mimpi serta keinginan yang belum tercapai? Jawaban itu hanya kita yang tahu. Bijak atau tidaknya, tergantung dari kacamata mana kita memandangnya.
Tanpa kita sadari, kita pasti akan terjebak dengan persoalan diatas. Dan selalunya kita bingung dengan jalan keluar untuk mengatasi persoalan itu. Asal kita paham dan mengetahui sampai dimana persoalan yang kita hadapi, percayalah semua itu ada solusinya. Sabar, tenang dan hadapi adalah kunci untuk keluar dari segala macam persoalan……(ntar sambung lagi…)
Sabtu, 17 Mei 2008
…Pendidikan Konservasi…apa perlunya sih?...
Pendidikan Konservasi adalah sebuah program yang dikemas dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar lebih sadar dan lebih perhatian mengenai lingkungan dan
permasalahan serta hubungan timbal baliknya. Tingkat pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi untuk bekerja dan memecahkan masalah saat itu dan mencegah timbulnya permasalahan yang baru.
Program ini sering memusatkan pada pendidikan formal seperti sekolah, pondok pesantren atau non formal yang banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga yang peduli terhadap pelestarian alam, seperti lembaga swadaya masyarakat ataupun instansi pemerintah yang terkait langsung dengan usaha itu, ke berbagai kalangan.
Pendidikan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, tak hanya presentasi dengan multimedia yang menunjukkan gambar kerusakan dan bencana. Tidak harus putar film tentang keindahan alam kalau kita melestarikan, atau dengan melakukan aksi yang menunjukkan bahwa “kami peduli konservasi”. Namun pendidikan konservasi dapat dilakukan dengan melihat apa yang sedang disukai oleh kelompok masyarakat tertentu.
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, tidak harus menggunakan judul pendidikan lingkungan hidup atau apapun yang berbau lingkungan atau pelestarian. Anak-anak kecil diajak untuk menjadi pengamat sungai atau got di depan rumah, dengan mengambil air yang dituangkan ke dalam gelas atau plastik dan membandingkan dengan air yang bersih dan jernih yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, merupakan pengalaman dini untuk mengenal tentang pencemaran lingkungan.
Pengenalan di lapangan seperti itu akan lebih mencapai tujuan untuk memperkenalkan kehidupan di sekitar kita. Masih banyak cara yang dapat digali untuk memperkenalkan dampak positif dan negatif yang ada di sekitar kita.
Affan Surya
Selasa, 13 Mei 2008
Rusa dan Harimau Masih Jadi Target Pemburu
Jumat, 11 Januari 2008 | 16:02 WIB
BENGKULU, JUMAT - Rusa dan harimau, dua hewan yang dilindungi dan masih terdapat di Provinsi Bengkulu, sampai saat ini masih menjadi target dari para pemburu liar, sehingga populasinya terancam punah.
"Pemburu hewan langka itu tidak hanya warga Bengkulu, tapi banyak pendatang dari luar daerah antara lain dari Jakarta, kata Muchtar Daulai," salah seorang warga Kecamatan Napal Putih Bengkulu utara, Jumat.
Menurut dia, praktik pemburuan itu secara rutin dilakukan di wilayah tersebut, karena daerah itu merupakan kawasan hutan muda dan di sekitarnya sudah terdapat perkebunan kelapa sawit rakyat.
Ia mengaku pernah memergoki beberapa pemburu di malam hari yang mendapatkan seekor rusa, pemburu itu diduga berasal dari Jakarta dan salah seorang anggota Perbakin, namun datang secara secara pribadi.
Pemburu itu tidak hanya menembak rusa saja, tapi harimau dan binatang hutan lainnya juga dihabisi, termasuk orang hutan, musang, babi rusa dan babi hutan.
Kegiatan para pemburu itu hanya diketahui oleh segelintir warga saja, namun apabila ada masyarakat bertanya, pemburu itu beralasan sedang berburu babi hutan untuk membantu petani mengurangi hama tanaman, namun tujuan utamanya mencari rusa, sapi liar dan harimau.
"Saya tak habis pikir oknum setempat seakan tutup mata, padahal hewan langka seperti rusa dan harimau itu dilindungi undang-undang," ujarnya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu Ir Edy Sutiyarto melalui Humas Darwis Saragih ketika dikonfirmasi sedang tidak di tempat.
Beberapa waktu lalu, Darwis Saragih, mengatakan, praktek perburuan satwa yang dilindungi di Provinsi Bengkulu disinyalir masih terus berlanjut, tidak hanya rusa dan harimau menjadi buruan, tapi termasuk gajah dan badak serta orang hutan, dan hal itu dilakukan secara diam-diam.
Aksi perburuan satwa langka itu akan mengancam keberadaan populasi hewan yang dilindungi itu. Pemburuan tersebut awalnya mengincar hewan jenis badak, namun setelah populasinya habis kini beralih ke gajah, harimau, beruang dan lainnya, katanya.
Ia mencontohkan, pemburuan gajah liar awalnya beraksi di Kabupaten Kaur, kemudian bergeser ke wilayah Bengkulu Utara, dengan cara menjerat pada daerah lintasan tertentu seperti dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas.
Petugas BKSDA beberapa waktu lalu pernah menemukan beberapa lokasi jerat, namun belum mendapatkan mangsanya. Jerat-jerat itu terbuat dari kawat baja dan sudah dimusnahkan.
Untuk pengawasan di lokasi kawasan selain sudah ditempatkan petugas, BKSDA juga melibatkan masyarakat di desa sekitar kawasan hutan untuk memantau kelompok pemburu tersebut.
Sementara itu, pada titik peredaran hasil buruan juga sudah ditempatkan personil khusus yang setiap saat siap membengkuk penjual hasil curian seperti gading gajah, kulit harimau dan cula badak.(ANT/ABI)
Please Visit : http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/01/11/16022917/rusa.dan.harimau.masih.jadi.target.pemburu
Terkam Orang, Harimau Sumatera Diburu

Terkam Orang, Harimau Sumatera Diburu PADANG, KAMIS-Enam orang tim penjinak satwa liar dari Dumai (Riau) dan Prov. Jambi, hingga kini masih berupaya menangkap seekor harimau Sumatera (Panthera tigris Sumatrae)
yang menerkam dua orang warga pekan lalu di kawasan hutan Bukit Kasai perbatasan Padang dengan Pesisir Selatan. "Tim penjinak dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, sudah memasang dua perangkap di lokasi kejadian, diumpan dengan dua ekor kambing," kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sumbar, Maryono, di Padang, Rabu (30/1). Menurut dia, seekor harimau Sumatera yang menerkam dua warga pekan lalu itu, jika dilihat dari jejaknya kuat dugaan kategori umurnya masih bujang (jantan). Diperkirakan satwa dilindungi itu, masih berkeliaran pada kawasan hutan tersebut, maka upaya penjinakan terus dilakukan dengan mengandalkan perangkap. "Kita berharap seekor harimau itu, dapat ditangkap dalam keadaan masih hidup," katanya dan menambahkan, penangkapan dilakukan agar konflik dengan manusia tidak terulang lagi di kawasan hutan itu. Pascakejadian yang beruntun pekan lalu (Kamis dan Sabtu) warga Siguntur, Kec, Koto XI Tarusan dan Bungus Teluk Kabung, tidak berani masuk hutan dan ke ladang mereka. Dia menjelaskan, jika seekor harimau Sumatera tertangkap, rencananya akan dikarantina di kebun bintang Kota Bukittinggi, sebelum proses pelepasan ke kawasan hutan yang aman. Konflik harimau dan manusia terjadi karena habitat harimau terganggu ulah manusia yang membuka lahan berpindah-pindah dan menebang kayu hutan secara liar. Sedikitnya selama kurun dua tahun terakhir sudah tercatat 26 kasus konflik harimau dengan manusia di Sumbar, sebanyak 16 kasus menghilangkan nyawa manusia dan sisanya memangsa ternak masyarakat.
Kamis, 31 Januari 2008 | 04:12 WIB
PADANG, KAMIS-Enam orang tim penjinak satwa liar dari Dumai (Riau) dan Prov. Jambi, hingga kini masih berupaya menangkap seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang menerkam dua orang warga pekan lalu di kawasan hutan Bukit Kasai perbatasan Padang dengan Pesisir Selatan.
"Tim penjinak dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, sudah memasang dua perangkap di lokasi kejadian, diumpan dengan dua ekor kambing," kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sumbar, Maryono, di Padang, Rabu (30/1).
Menurut dia, seekor harimau Sumatera yang menerkam dua warga pekan lalu itu, jika dilihat dari jejaknya kuat dugaan kategori umurnya masih bujang (jantan). Diperkirakan satwa dilindungi itu, masih berkeliaran pada kawasan hutan tersebut, maka upaya penjinakan terus dilakukan dengan mengandalkan perangkap.
"Kita berharap seekor harimau itu, dapat ditangkap dalam keadaan masih hidup," katanya dan menambahkan, penangkapan dilakukan agar konflik dengan manusia tidak terulang lagi di kawasan hutan itu. Pascakejadian yang beruntun pekan lalu (Kamis dan Sabtu) warga Siguntur, Kec, Koto XI Tarusan dan Bungus Teluk Kabung, tidak berani masuk hutan dan ke ladang mereka.
Dia menjelaskan, jika seekor harimau Sumatera tertangkap, rencananya akan dikarantina di kebun bintang Kota Bukittinggi, sebelum proses pelepasan ke kawasan hutan yang aman. Konflik harimau dan manusia terjadi karena habitat harimau terganggu ulah manusia yang membuka lahan berpindah-pindah dan menebang kayu hutan secara liar.
Sedikitnya selama kurun dua tahun terakhir sudah tercatat 26 kasus konflik harimau dengan manusia di Sumbar, sebanyak 16 kasus menghilangkan nyawa manusia dan sisanya memangsa ternak masyarakat.
MBK
Sumber : Antara
Please Visit : http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/01/31/04121014/terkam.orang.harimau.sumatera.diburu
Bagian Tubuh Harimau Masih Dijual Bebas
Rabu, 13 Februari 2008 | 20:34 WIB
JAKARTA, RABU - Bagian-bagian tubuh Harimau Sumatera, hewan langka yang dilindungi, dilaporkan dijual secara terbuka di berbagai tempat di Sumatera. Demikian laporan Traffic, organisasi lingkungan dari Inggris seperti diungkapkan dalam siaran pers, Rabu (13/2).
Bagian-bagian tubuh Harimau, termasuk gigi taring, cakar, potongan-potongan kulit, kumis dan tulang belulang, masih dijual di berbagai tempat. Transaksi haram tersebut dilakukan pada sepuluh persen dari total 326 toko ritel yang disurvei pada 2006 di 28 kota besar dan kecil di seluruh Sumatera.
Penjualannya tidak langsung, namun melalui toko ritel yang menjual perhiasan emas, souvenir, dan obat Cina, serta toko-toko yang menjual barang antik dan batu-batu mulia. Survei menduga paling sedikit ada 23 Harimau diburu untuk mensuplai toko-toko ritel tersebut.
"Terjadi penurunan dari dugaan 52 dibunuh setiap tahunnnya," tegas laporan tersebut.(ANT/WAH)
Please Visit : http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/02/13/20342186/bagian.tubuh.harimau.masih.dijual.bebas
Tak Satupun Kasus Perdagangan Harimau Sumatera Diproses
Rabu, 13 Februari 2008 | 20:40 WIB
MEDAN, RABU - Sejak tahun 2002, tidak ada satupun kasus perdagangan satwa harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae ) yang diproses hukum. Laporan perdagangan satwa selalu disampaikan lembaga swadaya masyarakat ke instansi terkait. Kondisi ini menjadi sorotan pemerhati lingkungan internasional.
"Setiap tahun data kematian satwa selalu ada. Laporan data itu kami sebarluaskan ke pemerintah. Tetapi belum ada langkah hukum. Apakah kita semua akan terpaku melihat kepunahan harimau sumatera sebagaimana harimau bali dan jawa yang sudah punah," tutur ahli konservasi satwa liar Ian Singleton, Rabu (13/2) ditemui di Medan.
Menurut Ian, konsentrasi terbesar harimau sumatera ada di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utarat. Jumlahnya, tutur Ian, ada sekitar seperempat dari seluruh jumlah harimau yang tersisa . Harimau yang lain terfragmentasi di banyak tempat di Sumatera. "Kondisi mereka terdesak oleh pembukaan lahan perkebunan yang agresif," tuturnya.
Tidak ada alasan, tuturnya, untuk tidak mempersoalkan perdagangan harimau sumatera ke proses hukum. "Laporan seperti ini sudah pernah ada empat tahun lalu. Kejadian dan tempat kejadian jelas. Mengapa laporan setiap tahun sejak empat tahun lalu masih belum ada reaksi hingga kini . Jika pemerintah kesulitan soal dana, LSM kami sanggup membantu pembiayaan proses hukum," tuturnya.
326 Outlet
Berdasarkan laporan TRAFFIC-LSM internasional pemantau jaringan perdagangan satwa liar--terdapat 326 outlet di 28 kota di Sumatera. Relawan TRAFFIC menemukan organ tubuh harimau sumatera berupa taring, cakar, kulit, kumis, dan tulang di tempat itu. Dalam surveinya, Kota Medan dan Pancur Batu (Deli Serdang) merupakan tempat paling banyak ditemukannya organ tubuh harimau di Sumut.
Dalam keterangan tertulis yang dikirim ke Kompas Chris Shepherd dari TRAFFIC menyampaikan pelestarian harimau sumatera yang tersisa membutuhkan intervensi pemerintah. Pemerintah Indonesia, tuturnya, bersama-sama dunia internasional mesti berkomitmen bersama untuk mengatasi perdagangan satwa liar ini.
TRAFFIC memprediksi, data terakhir jumlah populasi harimau sumatera yang tersisa antara 400 dan 500 ekor saja . Bukan tidak mungkin, katanya, harimau sumatera yang tersisa itu akan punah. Pada 2002 sampai 2006, TRAFFIC melakukan survei di 2 8 kota di seluruh Sumatera. Hasilnya, hanya tujuh dari seluruh kota yang disurvei itu yang tidak ditemukan perdagangan organ tubuh harimau sumatera.
Data tersebut menunjukkan perdagangan organ tubuh harimau terus ada. Hal ini lantaran perburuan atas satwa yang dilindungi ini terus dilakukan. Rata-rata, relawan menemukan perdagangan organ tubuh harimau itu di toko perhiasan. Kebanyakan organ tubuh yang ditemukan itu antara lain cakar, gigi taring, potongan kulit, dan tulang.
Kepala Balai Besar Konvervasi Sumber Daya Alam Sumut, Djati Witjaksono Hadi, mengaku sudah menerima l aporan itu dari TRAFFIC. Laporan itu, tutur Hadi, tidak bisa langsung dipakai sebagai alat bukti memberi sanksi pelaku perdagangan. "Kami perlu bukti yang lebih kuat. Petugas kami di lapangan masih mengumpulkan barang bukti yang cukup sehingga bisa memberi sanksi pelaku perdagangan, " katanya.
Please Visit : http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/02/13/20400149/tak.satupun.kasus.perdagangan.harimau.sumatera.diproses
BKSDA Selidiki Pendagangan Organ Harimau Sumatera

KOMPAS/ SRI REJEKI
Selasa, 19 Februari 2008 | 18:12 WIB
MEDAN, SELASA - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara tengah meneliti dugaan praktik perdagangan organ tubuh Harimau Sumatera, yang menurut survai marak dilakukan di daerah ini.
Penelitian itu dilakukan terkait laporan survei TRAFFIC Southeast Asia yang menemukan bahwa Medan dan Kota Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang merupakan kota singgahan utama bagi perdagangan organ-organ tubuh satwa langka itu. Kepala BKSDA Sumut, Ir. Djati Witjaksono Hadi, ketika dikonfirmasi di Medan, Selasa (19/2), menyatakan, BKSDA akan menindak tegas para pelaku apabila laporan tersebut terbukti.
"Perdangangan bebas satwa yang dilindungi itu tidak bisa dibiarkan terus merajalela, karena mengancam populasi harimau Sumatera," katanya. Pihaknya sudah meminta data dan informasi yang akurat mengenai perdagangan harimau Sumatera. Begitu juga mengenai foto-foto yang diperoleh lembaga survey tersebut. Apakah memang benar foto-foto harimau Sumatera yang diambil itu berada di kawasan hutan Sumut.
Hal ini terpaksa dilakukan oleh petugas BKSDA Sumut untuk menguji kebenaran laporan tersebut. Apalagi laporan yang dikeluarkan oleh lembaga survei itu adalah hasil penelitian pada tahun 2006 dan bukan yang terbaru.
"Kita tidak mau hasil survai yang disampaikan itu tidak sesuai nantinya dengan yang ada di lapangan," ujarnya. Pihak BKDA Sumut jelas tidak akan membiarkan penjualan satwa tersebut karena membiarkan juga dianggap pelanggaran hukum.
Menurut survei TRAFFIC, organ-organ tubuh harimau Sumatera seperti gigi, taring, cakar, kulit, kumis, dan tulang telah diperjualbelikan pada 10 persen toko dari 326 toko yang disurvai di 28 kota di Sumatera pada 2006. Survei menduga, sedikitnya ada 23 harimau diburu untuk mensuplai toko-toko ritel itu, berdasarkan jumlah gigi taring yang ada di pasaran. Kendati jumlah itu turun dari dugaan 52 ekor harimau Sumatera dibunuh antara tahun 1999 hingga 2002.(ANT/WAH)
Please visit: http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/02/19/18125972/bksda.selidiki.pendagangan.organ.harimau.sumatera
Minggu, 04 Mei 2008
Pakantan, Wisata Kebun Kopi Tua Mandailing
Kebun kopi Mandailing berusia ratusan tahun, berpotensi sebagai kawasan ekowisata
Abdul Hamid Damanik, Affan Surya dan Erikson Sinaga
Pakantan, pernah dijuluki sebagai negeri Gunung Mas. Sebuah kejayaan yang pernah dialami daerah itu antara tahun 1835-1942.
Ini terjadi bersamaan dengan penjajahan Belanda atas Mandailing waktu itu. Tetapi, julukan sebagai gunung mas kemudian berakhir seiring dengan masuknya Jepang pada tahun 1942.
Kejayaan Pakantan yang mewakili Mandailing sehingga mendapat julukan sebagai negeri gunung mas tak lain karena hasil kopi arabica-nya yang melimpah. Kebun kopi yang ditanam di dua tempat, yakni di Pakantan Lombang dan Pakantan Dolok memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena harganya juga sangat tinggi. Tak heran kalau waktu itu masyarakat Pakantan dapat dengan mudah mengirim anaknya sekolah sampai ke Jawa. Banyak diantaranya kini menjadi orang-orang sukses di Jakarta. Beberapa orang terkenal di Jakarta asal Pakantan adalah Adnan Buyung Nasution dan Diana Nasution.
Pakantan terdiri dari dua bekas kerajaan kecil, yakni Kerajaan Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Kini, setelah berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, bekas negeri gunung mas itu terpecah menjadi tujuh desa, yakni Desa Huta Lancat, Huta Gambir, Huta Julu, Pakantan Bukit, Huta Toras, Huta Padang dan Desa Huta Bargot. Secara adminisratif, ketujuh desa tersebut saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal. Menurut salah seorang sesepuh masyarakat Pakantan Dolok, Sutan Baringin Lubis (70), harga kopi arabica sampai Tahun 1942 mencapai Rp 60-80 per 62,5 kilogram. Dalam satu bulan, tambah Sutan Baringin, dapat dihasilkan 25 kilogram kopi kering. Dari hasil kopi itu juga banyak masyarakat yang pergi menunaikan ibadah Haji. Pada waktu itu, Ongkos Naik Haji hanya Rp 600.
Akan tetapi setelah Jepang kemudian menguasai daerah ini harga kopi jatuh sampai 75 persen. Menurut Sutan Baringin Lubis, jatuhnya harga karena Jepang melarang ekspor kopi ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat kemudian enggan mengusahakan kebun kopi itu secara intensif. Kopi Pakantan tak lagi menjanjikan kemakmuran seperti semula. Meskipun saat ini kebun kopi itu masih dikelola oleh beberapa pewarisnya namun hasilnya tetap tidak memadai. Produksi per hektar per tahun hanya 350 kilogram kopi kering dengan harga Rp 5000 per kilogram. Menurut Sahli Lubis (35), salah seorang pewaris, hasil kopi mereka saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Tak heran, kalau kopi asal Pakantan tidak lagi dapat ditemukan di pasaran. Padahal, kata Sahli kualitas rasa kopi daerahnya itu sudah terkenal sampai ke Eropa.
Sisa-sisa kebun kopi arabica yang telah berumur ratusan tahun itu masih dapat dilihat di sekitar Gunung Aek Luane di wilayah bekas kerajaan Pakantan Dolok. Lokasi ini merupakan kawasan penyangga hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Hingga kini kebun kopi tua itu masih tersisa sekitar 5 hektar.
Objek Wisata
Bagi para pecandu kopi sejati yang ingin membuktikan nikmatnya cita rasa kopi Pakantan datang saja ke kampungnya Adnan Buyung Nasution itu. Kopi yang dapat menggetarkan lidah tersebut masih dapat dinikmati di beberapa warung. Bahkan kalau mau masih bisa membawa bubuknya sebagai oleh-oleh. Bayangkan, bagaimana nikmatnya minum kopi di desa tradisional yang berhawa sejuk dan segar itu. Ditambah masyarakatnya yang ramah dan santun terhadap tamu dari luar membuat kita ingin datang berkali-kali. Para pengunjung juga bisa melihat bekas istana Kerajaan Pakantan Dolok dan sopo godang tempat masyarakat melakukan pertemuan. Hal itu penulis rasakan ketika berkesempatan berkunjung kesana beberapa waktu yang lalu.
Tidak saja bisa merasakan nikmatnya kopi Pakantan, kita pun masih bisa membuktikan kebun kopi tua yang berada di Gunung Aek Luane sana. Hanya 7 kilometer saja jaraknya dari Desa Huta Gambir ke lokasi kebun kopi tersebut. Melewati jalan setapak, jarak 7 kilometer itu dapat ditempuh dalam 3 jam berjalan kaki. Kondisi jalur yang landai menambah tantangan bagi para petualang. "Itu waktu yang sangat lama", kata Sahli Lubis yang biasa menempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam.
Menurut pengakuan seorang penggila minuman kopi asal Medan yang pernah dua kali berkunjung ke sana, melihat kebun kopi tua Pakantan sangatlah menarik. Sepanjang perjalanan dari desa ke kebun kopi banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Burung-burung yang beragam jenis, primata, kijang, rusa dan tumbuhan aneh kerap dapat dilihat selama perjalanan. Apalagi dalam setengah perjalanan yakni di Bukit Tincuk, kita disuguhi pemandangan alam yang menawan berupa hamparan sawah dan perkampungan tradisonal Pakantan, kata penggila minuman kopi ini. Penulis sendiri membuktikan hal itu. Bahkan, ketika berada di tengah kebun kopi tersebut penulis seakan terhipnotis dan merasa berada di dunia lain.
Sebagai kawasan zona penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), menurut para pemerhati industri pariwisata, Pakantan memang layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Abu Hanifah Lubis, Field Coordinator Conservation International Indonesia (CII) untuk TNBG mendukung hal tersebut. Menurutnya, Pakantan memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah pengembangan tujuan wisata minat khusus. Pendapat Abu cukup beralasan, sebab kampungnya Diana Nasution itu memang memiliki prospektif bagus karena objek daya tariknya. ***


